Tampilkan postingan dengan label Hulu Sungai Utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hulu Sungai Utara. Tampilkan semua postingan

Mimpi Besar Bersama Wujudkan Rawa Makmur
Reza Khumaini

Pemilihan Bupati HSU 2017 – 2022
Pemlihan Bupati Hulu Sungai Utara yang sebentar lagi akan dilaksanakan pada bulan Februari 2017, menjadi momentum untuk bisa berbenah dan bahan evaluasi, apakah arah pembangunan saat ini sebenarnya sudah tepat? Banyak yang kita harapkan terutama perubahan kebijakan yang lebih baik lagi kedepannya, dalam hal ini terkait bidang Ekonomi dan Reformasi Keuangan Daaerah oleh siapapun BUPATI yang terpilih nantinya.

Masih Ditetapkan Sebagai Daerah Tertinggal oleh Presiden RI Joko Widodo untuk 2015 – 2019
Kabupaten Hulu Sungai Utara sampai saat ini (2016) masih berstatus sebagai daerah tertinggal, kondisi setelah menjadi Daerah Otonomi di lanjutkan dengan berpisahnya beberapa daerah menjadi Kabupaten Balangan semakin membuat Hulu Sungai Utara kehilangan sumber pendapatan daerahnya.
Tentu sangat miris disaat daerah lain terus meningkatkan sumber pendapatannya dari hasil Sumber Daya Alam, Hulu Sungai Utara justru masih bertahan dan berjuang dengan kondisi sebagai daerah tertinggal.  Bahkan penetapan desa-desa tertinggal sudah dilakukan berdasarkan surat keputusan Bupati HSU nomor 469 tahun 2013 sebanyak 103 desa (www.antarakalsel.com)”, walaupun tidak diketahui desa mana saja yang ditetapkan sebagai daerah tertinggal, karna minim sekali publikasi data terkait hal tersebut.
Banyak indikator penyebab Hulu Sungai Utara menjadi daerah tertinggal seperti Infrastruktur (Akses Jalan, Fasilitas umum) yang sebagian besar Hulu Sungai Utara adalah Rawa, Terbatasnya Sumber Daya Alam, Persoalan Pendidikan, Kesehatan dll.  Dengan kondisi seperti ini tertu diperlukan pemikirian kreatif, kerja bersama dalam memperbaiki kondisi ini dengan mengoptimalkan Sumber Daya yang ada.
“Komitmen Bupati Aunul Hadi untuk menyambung Jalan Danau Panggang – Paminggir & HSU menjadi Kota Pelajar  harus dilanjutkan”

Pada halal bi halal tahun 2008 di sebuah tempat sederhana di daerah Stadio Kridosono Yogyakarta, Bupati Aunul Hadi pernah menyampaikan program kerjanya (Visi Misi) untuk membangun HSU keluar dari daerah tertinggal, beberapa diantaranya adalah menyambung  jalan Danau Panggang – Paminggir, dan ini dilakukan beliau walaupun hanya urugan tanah per beberapa kilometer setiap tahunnya. kemudian juga membuat HSU menjadi kota pelajar dimana nantinya akan punya dampak Ekonomi yang besar, Multiplier Efect dalam jangka panjang seperti Kontrakan, Kost kostan, Jasa – jasa, Perdagangan, Pariwisata yang akan dinikmati oleh Masyarakat HSU maupun dari sisi Pendapatan Daerah (APBD) dari banyaknya pendatang yang nantinya akan belajar di HSU.
“Visi Misi adalah sebuah Hal yang Noormatif, Pada Akhirnya Tindakan Nyata Pemimpinlah yang dibutuhkan masyarakat”

Pendapatan Asli Daerah
Salah satu faktor ditetapkannya Hulu Sungai Utara Sebagai daerah tertinggal tentunya karna tidak memiliki sumber sumber pendapatan yang bisa menunjang untuk Pembangunan Daerahnya, dan ini tercermin dari lambatnya Pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah Hulu Sungai Utara dibandingkan dengan Sumber Pendapatan selain PAD pada APBD baik dari Dana Transfer maupun Pendapatan Lainnya.

Dana Perimbangan / Transfer (Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus) sangat mempengaruhi pertumbuhan Pendapatan Daerah, sedangkan Pendapatan Asli Daerah cenderung lambat pertumbuhannya. Dengan kondisi ini di era otonom, tentunya ketergantungan kita dengan pusat masih sangat tinggi. Perlu Inovasi dari pemerintah Daerah untuk mencari sumber – sumber Pendapatan / Retribusi baru agar bisa memperbaiki Neraca Pendapatan Daerah baik dalan Jangka Pendek, Menengah maupun Jangka Panjang.
Menjadi pertanyaan apakah sumber – sumber Pendapatan Pasar, Toko, Parkir saat ini yang dipungut melalui petugas-petugas dilapangan tidak terjadi kebocoran? Hal ini tentu perlu di evaluasi lagi. Momentum keberhasilan pelaksanaan Tax Amnesty Pemerintah Pusat tentunya bisa menjadi dorongan motivasi untuk daerah agar bisa berfikir kreatif- Inovatif dalam mencari sumber – sumber pendapatan baru dari Pajak ditambah lagi dalam beberapa tahun terakhir PBB & BPHTB diserahkan ke daerah, sudahkan NJOP Pada Pajak Bumi & Bangunan disesuaikan dengan Harga Jual yang berlaku saat ini? Atau masih menggunakan NJOP / harga berlaku 10 tau 20 tahun yang lalu?

Sumber Daya Alam atau Sumber Daya Manusia?
Berpisahnya sebagian daerah HSU menjadi kabupaten Balangan membuat Sumber Pendapatan  dari Sumber Daya Alam saat ini tentunya perlahan harus kita lupakan sejenak. Selama ini Hulu Sungai Utara banyak menghasilkan Sumber Daya Manusia yang handal diberbagai bidang, selayaknya ini merupakan sebuah potensi untuk dikembangkan. Kita sering mendengar istilah “Perekonomian Dijajah Asing” tapi pernahkah kita menyadari bahwa keunggulan Asing seringkali karna mereka memiliki Sumber Daya Manusia yg sudah lebih berkembang dibandingkan kita (Banyak memiliki Peneliti, meneliti puluhan bahkan ratusan tahun) dan kita hanya memiliki Sumber Daya Alam tapi tanpa mampu mengolahnya? Adapun ahli yang kita miliki, mereka lebih banyak memilih bekerja diluar negri dengan kondisi dan penghargaan yang jauh lebih baik terhadap mereka tentunya.
Di kalimantan Timur sudah pernah dilakukan penelitian tentang pengolahan Limbah Enceng Gondok (Ilung) menjadi Energi. Kenapa kita tidak mengirimkan Anak – anak muda yang berkomitmen tinggi, mau mengabdi dan kembali kedaerah, di kuliahkan ke luar Negri untuk belajar di Universitas Terbaik di Negara – Negara yang terbukti maju di bidang Penelitian untu mengelola limbah kita menjadi Energi misalkan?
“Muaranya SDM (Peneliti) ujungnya Industrialisasi Daerah
Dirikan Lembaga Penelitian Daerah, Perguruan Tinggi untuk menampung Para Ahli – ahli ini nantinya, Peneliti Energi, Pertanian, Perikanan / Pengelolaan Rawa, Kesehatan apapun itu yang berpotensi untuk diteliti dan dikembangkan untuk daerah hulu sungai utara, “Jangan sampai Orang Luar datang mengolah Sumber Daya, Limbah kita, kemudian kita hanya bisa berkata, Anti Asing!” tanpa pernah melakukan apapun terkait dengan perbaikan Sumber Daya Manusia .
“Prioritas Sumber Daya ini harus dilakukan agar Arah Pembangunan Ekonomi Jelas”
Tentu Anggarannya lebih baik dan bermanfaat dalam Jangka Panjang dibanding studi banding ke luar negri bukan?

Kebijakan Daerah yang mengacu pada Output Ekonomi Daerah Saat ini (PDRB).
Pembangunan dan Perbaikan Jalan, Jembatan ini adalah Hal – hal yang pasti akan dilakukan oleh siapapun Pemimpinnya, karna merupakan Program yang berkesinambungan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten Kota) hanya biasanya yang mana yang menjadi Prioritas, Subyektif (Kebijkan Politik) atau Obyektif (Karna Kebutuhan).  
Selayaknya kebijakan Pemerintah Daerah bertujuan untuk memajukan hal – hal apa saja yang menjadi “Tulang Punggung Ekonomi Daerah” dalam hal ini mengacu Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Hulu Sungai Utara

“Sudahkah Pembangunan dilakukan sesuai Prioritas Kondisi PDRB Ekonomi Daerah?”
Sektor Pertanian, Perikanan, Pengolahan, Perdagangan, Jasa – Jasa seperti Kesehatan, Pendidikan yang adalah sebagian besar yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat serta penopang Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Hulu Sungai Utara. Ini akan bisa tumbuh lebih baik lagi kedepannya apabila ada keberpihakan Anggaran dan Kebijakan dari Pemerintah Daerah dalam menstimulus Ekonomi di Hulu Sungai Utara agar lebih baik lagi.
Siapapun nanti yang akan terpilih menjadi Bupati Hulu Sungai Utara kedepan diharapkan bisa melakukan terobosan - terobosan dibidang Ekonomi yang lebih Kongkrit lagi, Menghilangkas Status sebagai Daerah Tertinggal pada tahun 2019, Peningkatan Pendapatan Asli Daerah, Pembangunan Sumber Daya Manusia yang berbasis Riset, Pembangunan & Kebijakan Anggaran yang Mengacu pada kondisi real ekonomi masyarakatnya (PDRB).

Amuntai - Sejarah
Kemunculan Kerajaan Negara Dipa sangat berkaitan dengan keruntuhan Kerajaan Nan Sarunai. Pada tahun 1355 Masehi, Raja Hayam Wuruk, penguasa Majapahit, memerintahkan seorang panglimanya yang bernama Empu Jatmika untuk memimpin armada perang dengan misi menaklukkan Kerajaa Nan Sarunai dan menjadikannya sebagai bagian dari Kerajaan Majapahit. Peristiwa tentang penyerbuan angkatan perang Kerajaan Majapahit ke Kerajaan Nan Sarunai ini dikisahkan dalam Hikayat Banjar dan diabadikan oleh para seniman lokal melalui tutur wadian (puisi ratapan) yang dilisankan dalam bahasa Maanyan. Mereka mengenang keruntuhan Kerajaan Nan Sarunai dengan menyebutnya sebagai peristiwa "Usak Jawa" atau Penyerangan oleh Kerajaan Jawa".
Candi Agung
Setelah berhasil mengalahkan peradaban orang-orang Suku Dayak Maanyan, Empu Jatmika kemudian membangun kerajaan baru di Pulau Hujung Tanah yang merupakan bekas wilayah kekuasaan Kerajaan Nan Sarunai. Kerajaan baru ini diberi nama Kerajaan Negara Dipa. 
Nama "Dipa" diambil dari bahsa Dayak Maanyan, yakni "dipah ten" yang berarti "Kerajaan yang terletak di seberang". Pemberian nama dengan makna "Kerajaan yang terletak di seberang" sangat mungkin mengacu pada letak Kerajaan Negara Dipa yang berada di seberang lautan jika ditempuh dari Kerajaan Majapahit yang berlokasi di Jawa. Setelah berhasil menaklukkan Kerajaan Nan Sarunai, Empu Jatmika memang memposisikan Kerajaan Negara Dipa yang dirintisnya sebagai wilayah taklukan yang mengabdi di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Yang menarik dari berdirinya Negara Dipa ini adalah,dalam konsepsi Hindu dianggap tidak mungkin seseorang dari kasta waisya (pedagang) dapat menjadi seorang raja.Sehingga Ampu Jatmika mengakalinya dengan membuat patung yang ia anggap merupakan visualisasi dari dirinya.Sehingga ia dengan ada nya patung ini ia merasa bahwa dirinya pantas untuk memimpin sebuah kerajaan.
Setelah beberapa tahun memerintah,Ampu Jatmika jatuh sakit dan akhirnya meninggal.Sebelum meninggal ia menyampaikan wasiat kepada kedua anaknya untuk mencari penerus penguasa kerajaan baru yang sah,sebab ia sadar bahwa kedua anaknya bukanlah keturunan raja sehingga tidak pantas untus memerintah Negara Dipa.

Menurut legenda setelah Ampu Jatmika meninggal,diyakini Lambu Mangkurat pun menemukan penguasa Negara Dipa yang baru ketika ia sedang bertapa di sungai.Ketika Lambu Mangkurat sedang bertapa tiba-tiba dari pusaran air keluar buih yang bersinar,lalu keluar seorang putri.Putri itu kemudian disembah,diangkat menjadi ratu di Negara Dipa,dan dinamakan Putri Junjung Buih yang berarti “ratu yang dimuliakan dan dihormati.

Setelah Putri Junjung Buih dipilih menjadi ratu di Negara Dipa,Lambu Mangkurat pun berniat untuk mencarikan calon suami bagi Ratu baru Negara Dipa.Ratu yang mengetahui niatan Lambu Mangkurat ini pun mengiyakan hal tersebu,namun sang Ratu mempunyai kriteria khusus bagi calon suaminya nanti,sang calon suami haruslah orang yang dapat bertapa seperti dirinya,yang mempunyai kekuatan hanya dengan didapat melalui proses bertapa.
Lambu Mangkurat pun yang mendengar syarat dari ratu nya ini pun bingung bagaimana ia dapat menemukan calon suami untuk sang ratu dengan syarat yang telah disebutkan.Namun pada suatu malam,Lambu Mangkurat bermimpi,di mimpinya ia mendapat petunjuk bahwa yang pantas untuk menjadi suami Putri Junjung Buih adalah Raden Putra atau Suryanata,raja di Majapahit yang dapat bertapa di puncak Gunung Majapahit.
Setelah mendapat petunjuk dari mimpinya,Lambu Mangkurat pun pergi untuk mencari Suryanata dan memohon kepada dirinya agar ia mau menikah dengan Putri Junjung Buih.Setelah bertemu dengan Lambu Mangkurat dan mendengar permohonanya untuk menikah dengan Putri Junjung Buih,Suryanata pun menyetujui untuk menikah dengan Putri Junjung Buih.Alasanya ia merasa adanya kecocokan dengan apa yang ada di dalam air (Putri Junjung Buih) dengan dirinya,Suryanata (Raja Matahari) penguasa di daratan,di atas bumi,dan di laut (yang di dalam air).
Setelah Putri Junjung Buih dan Suryanata menikah,mereka dinobatkan oleh Lambu Mangkurat sebagai sepasang Raja dan Ratu penguasa Negara Dipa.Tak lama setelah dinobatkan,Suryanata diberi gelar Pangeran Suryanata dan memperluas wilahah Negara Dipa yang mencakup Sukadana,Sambas,Batang Lawai,Kotawaringin,Pasir,Kuta,Karasikan,dan Berau.
Mengingat Suryanata berasal dari Majapahit yang notabene berpusat di Pulau Jawa,ia berpesan kepada Lambu Mangkurat agar adat istiadat Negara Dipa menggunakan adat Jawa Kerajaan Majapahit.Ia juga berpesan kepada Lambu Mangkurat dan anak-anaknya agar Negara Dipa aman dan sejahtera,rakyat dan anggota kerajaan dilarang berpakaian seperti negeri lain misalnya Kaling,Biajau,Bugis,Makassar,Melayu,dan Belanda.Pasalnya Suryanata percaya jika ada yang berpakaian seperti bangsa lain,kekacauan seperti huru-hara,kejahatan,dan banyak penyakit akan menimpa Negara Dipa.

Legenda mengenai berdirinya Negara Dipa melalui pernikahan Putri Junjung Buih dengan Suryanata,diyakini mengetengahkan sejumlah data mengenai asal usul Negara Dipa yang dipahami dengan pendekatan berupa ideologi dan religi.
Dalam lingkup ideologi,legenda ini mewakili adanya kepentingan penguasa.Artinya legenda mengenai pernikahan antara Putri Junjung Buih yang merupakan penguasa lokal dengan Suryanata yang berasal dari Majapahit,menyebabkan pelegitimasian masuknya pengaruh Majapahit ke Kalimantan Selatan dengan jalan yang sangat bai dan mempunyai akar yang sangat dalam.Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya tatacara dalam budaya Jawa di Negara Dipa yang memberlakukan adat istiadat Jawa.
Dari segi religi,legenda ini mengungkapkan atau menghadirkan raja yang suci.Dalam kepercyaan orang Dayak Ngaju,dikatakan bahwa Tuhan diwujudkan ke dalam kedwtitunggalan yang menciptakan alam atas dan alam bawah beserta segenap isinya,seakan-akan unsur jantan dan betina,yaitu Bungai dan Jatta.
Konsep keyakinan ini kemudian dikaitkan dengan pernikahan Putri Junjung Buih dengan Suryanata yang mana menggambarkan bersatunya alam atas dan alam bawah.Jika dikaitkan dengan konsep mikrokosmos dan makrokosmos,bisa dibilang masyarakat Dayak Ngaju meyakini bahwa Putri Junjung Buih dan Suryanata adalah perpanjangan tangan Tuhan untuk menata dunia.

Secara ekonomi,Negara Dipa merupakan kerajaan yang cukup baik.Meningat kerajaan ini mempunyai komoditas dagang yang cukup banyak seperti intan,emas,batu-batuan perhiasan,damar,lilin,rotan,gaharu,dan sebagainya.
Selain itu Seiring berjalanya waktu,Negara Dipa mulai sering disinggahi pedagang dari berbagai daerah seperti Bugis,Aceh,Sumbawa,Jawa,Bali,Madua,Kaling,Johor,dan Tiongkok.Hal ini disebabkan selain mempunyai komoditas yang cukup banyak,Negara Dipa yang berlokasi di tepi sungai dan mempunyai dua pelabuhan yang memiliki kondisi strategis di Muara Rampiau dan Muara Bahan.

Pada masa kepemimpinan kerajaan Dipa dibawah kekuasaan Raden Sari Kaburungan pusat pemerintahan dipindahkan dari Candi Agung (Amuntai), pusat pemerintahan ke Muara Ulak dengan alasan untuk menghindari bencana sebab ibukota yang lama dianggap sudah kehilangan tuahnya.
Selain pemindahan pusat pemerintahan,nama Kerajaan Negara Dipa juga diubah menjadi Negara Daha.Hal ini menandai diawalinya era baru dari Kerajaan yang mana akan menjadi Kesulanan Banjarmasin ini.
Dibawah kekuasaan Raden Sari Kaburungan,didirikan pelabuhan di daerah Kuta Arya Terengana,yang berada di pertemuan Sungai Barito dan Sungai Negara.Pelabuhan baru ini mengakibatkan aktivitas perdagangan semakin ramai.
Setelah Raden Sari Kabarungan wafat,penguasa kerajaaan Negara Daha terus berganti,hingga saat Maharaja Sukarama memerintah.Saat Maharaja Sukarama memerintah,ia mewasiatkan tahta kekuasaan Negara Daha kepada cucunya,Pangeran Samudra.Ketiga anaknya,Pangeran Mangkubumi,Pangeran Tumenggung,dan Pangeran Bagalung yang mendengar hal ini tidak setuju dengan wasiat tersebut.Maka setelah Maharaja Sukarama wafat,Pangeran Tumenggung mengambil alih gelar raja Negara Daha secara paksa dari Raden Samudra.
Raden Samudra yang kalah kemudian melarikan diri ke daerah di hilir Sungai Barito.Ia meminta perlindungan keapda orang Dayak Ngaju yang mendiami daerah yang disebut Banjar Oloh Masih dengan pemimpinya Patih Masih yang kemudian mengakui Pangeran Samudra sebagai pemimpin yang sah dari kerajaan Daha.
Di kediaman Patih Masih,Pangeran Samudra berupaya untuk menyusun strategi merebut Negara Daha dari tangan pamanya,Pangeran Tumenggung.Selain bantuan dari Patih Masih,ia juga meminta bantuan kepada Paih Balit,Patih Balitung,Patih Muhur,dan Patih Kuin.Para patih ini merupakan pemimpin dari daerah sekitar dimana Pangeran Samudra melarikan diri.Dengan bantuan dari beberapa Patih ini kemudian Pangeran Samudra mendirikan suatu kerajaan baru di Banjarmasin,kerajaan itu dinamakan Kerajaan Banjarmasin.
Walaupun sudah mendapat bantuan dari berbagai bantuan dari beberapa patih,Pangeran Samudra merasa bahwa dirinya masih harus mengumpulkan kekuatan yang lebih banyak dan kuat.Maka dari itu ia mengirim utusan ke Kesultanan Demak dengan harapan Demak akan memberikan bantuan.
Kesultanan Demak mengiyakan permintaan Pangeran Samudra,namun dengan syarat Pangeran Samudra beserta seluruh pengikutnya harus masuk Islam.Pangeran Samudra yang mendengar hal ini lalu menyetujui persyaratan ini.Setelah menyetujui persyaratan tersebut Kesultanan Demak mengirimkan 1.000 pasukan beserta dua orang penghulu yang akan metahbiskan Pangeran Samudra sebagai seorang sultan.Setelah berganti gelar menjadi Sultan Suryanullah,ia kemudian merubah nama kerajaanya menjadi Kesultanan Banjarmasin.
Setelah berhasil mengumpulkan kekuatan baru,ia kemudian menyerang dan berhasil mengalahkan Negara Daha yang berada dibawah pimpinan Pangeran Tumenggung.Dengan kemenangan dari Sultan Suryanullah ini,menandai bahwa Kesultanan Banjarmasin adalah penguasa baru di tanah Kalimantan Selatan.
(sumber : Haydr Suhardy,Kesultanan Banjarmasin Pada Abad Ke-19 & http://liveinbalikpapan.blogspot.com/2012/09/kerajaan-negara-dipa.html )